PENGARUH INFLASI TERHADAP PENGANGGURAN
Dalam jangka pendek,
kenaikan tingkat inflasi menunjukkan pertumbuhan perekonomian, namun dalam
jangka panjang, tingkat inflasi yang tinggi dapat memberikan dampak yang buruk.
Tingginya tingkat inflasi menyebabkan harga barang domestik relatif lebih mahal
dibanding dengan harga barang impor.
Masyarakat terdorong
untuk membeli barang impor yang relatif lebih murah. Harga yang lebih mahal
menyebabkan turunya daya saing barang domestik di pasar internasional. Hal ini
berdampak pada nilai ekspor cenderung turun, sebaliknya nilai impor cenderung naik.
Kurang bersaingnya harga barang jasa domestik menyebabkan rendahnya permintaan
terhadap produk dalam negeri. Produksi menjadi dikurangi. Sejumlah pengusaha
akan mengurangi produksi. Produksi berkurang akan menyebabkan sejumlah pekerja
kehilangan pekerjaan.
Para ekonom
berpendapat bahwa tingkat inflasi yang terlalu tinggi merupakan indikasi awal
memburuknya perekonomian suatu negara. Tingkat inflasi yang tinggi dapat
mendorong Bank Sentral menaikkan tingkat bunga. Hal ini menyebabkan terjadinya
kontraksi atau pertumbuhan negatif di sektor riil.
Dampak yang lebih
jauh adalah pengangguran menjadi semakin tinggi. Dengan demikian, tingkat
inflasi dan tingkat pengangguran merupakan dua parameter yang dapat digunakan
untuk mengukur baik buruknya kesehatan ekonomi yang dihadapi suatu negara.
Hubungan antara tingkat inflasi dengan tingkat pengangguran untuk jangka pendek
dapat dijelaskan dengan menggunakan Kurva Phillip yang dikemukakan oleh ekonom
bernama A.W. Phillips.
A.W. Phillips
menggambarkan bagaimana sebaran hubungan antara inflasi dengan tingkat
pengangguran didasarkan pada asumsi bahwa inflasi merupakan cerminan dari
adanya kenaikan permintaan agregat. Dengan naiknya permintaan agre-gat, maka
sesuai dengan teori permintaan, jika permintaan naik maka harga akan naik.
Dengan tingginya harga (inflasi) maka untuk memenuhi permintaan tersebut
produsen meningkatkan kapasitas produksinya dengan menambah tenaga kerja
(tenaga kerja merupakan satu-satunya input yang dapat meningkatkan output).
Akibat dari peningkatan permintaan tenaga kerja maka dengan naiknya harga-harga
(inflasi) maka, pengangguran berkurang.
Menggunakan pendekatan A.W.Phillips dengan
menghubungkan antara pengangguran dengan tingkat inflasi untuk kasus Indonesia
kurang tepat. Hal ini didasarkan pada hasil analisis tingkat pengangguran dan
inflasi di Indonesia dari tahun 1995 hingga 2010, ternyata secara statistik
maupun grafis tidak ada pengaruh yang signifikan antara inflasi dengan tingkat
pengangguran (lihat hasil analisis statistik di bawah ini).
Berbeda dengan di Indonesia, adanya
kenaikan harga-harga atau inflasi pada umumnya disebabkan karena adanya
kenaikan biaya produksi misalnya naiknya Bahan Bakar Minyak (BBM), bukan karena
kenaikan permintaan. Dengan alasan inilah, maka tidaklah tepat bila perubahan
tingkat pengangguran di Indonesia dihubungkan dengan inflasi. Karena itu,
perubahan tingkat pengangguran lebih tepat bila dikaitkan dengan tingkat
pertumbuhan ekonomi. Sebab, pertumbuhan ekonomi merupakan akibat dari adanya
pe-ningkatan kapasitas produksi yang merupakan turunan dari peningkatan
investasi.
Dari penjelasan
diatas saya dapat berpendapat bahwa inflasi sangat berpengaruh besar pada
pengangguran di suatu negara terlebih jika pemerintah di negara yang mengalami
inflasi mengeluarkan kebijakan yang tidak tepat dan malah dapat memburuk
keadaan ekonomi di negara tersebut. dari penjelasan diatas inflasi mempengaruhi
daya beli masyarakat yang cenderung menurun, dengan hal tersebut berdampak pada
pelaku usaha didalam negri untuk menekan biaya produksi agar usaha miliknya
tidak mengalami kebangkrutan. Salah satu solusi untuk menekan biaya produksi adalah
dengan mengeluarkan atau mem - phk kan sebagian pekerjanya. Dan dari situ lah
mulai bermunculan pengangguran yang disebabkan oleh inflasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar