DAMPAK TERJADINYA
INFLASI DAN CARA MENGATASI INFLASI
·
DAMPAK TERJADINYA INFLASI
a. Efek
terhadap pendapatan (Equity Effect)
Efek
terhadap pendapatan sifatnya tidak merata, ada yang dirugikan tetapi ada pula
yang diuntungkan dengan adanya inflasi. Pihak-pihak yang dirugikan adalah masyarakat
yang mendapatkan pendapatan tetap, orang yang menumpuk kekayaan dalam bentuk
uang kas, demikian juga pihak yang memberikan pinjaman dengan bunga yang lebih
rendah dari laju inflasi. Sedangkan pihak yang mendapat keuntungan dengan
adanya inflasi adalah mereka yang memperoleh kenaikan pendapatan dengan
persentase yang lebih besar dari laju inflasi, atau mereka yang mempunyai
kekayaan bukan uang dimana nilainya naik dengan persentase lebih besar dari
laju inflasi.
Dengan
demikian inflasi dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam pola pembagian
pendapatan dan kekayaan masyarakat. Inflasi seolah-olah merupakan pajak bagi
seseorang dan merupakan subsidi bagi orang lain.
b. Efek
terhadap efisiensi (Efficiency Effects)
Inflasi
dapat pula mengubah pola alokasi faktor-faktor produksi. Perubahan ini dapat
terjadi melalui kenaikan permintaan akan berbagai macam barang yang kemudian
dapat mendorong terjadinya perubahan dalam produksi beberapa barang tertentu.
Dengan adanya inflasi, permintaan akan barang tertentu mengalami kenaikan yang
lebih besar dari barang lain, yang kemudian mendorong kenaikan produksi barang
tersebut. Kenaikan produksi barang ini pada gilirannya akan mengubah pola
alokasi faktor produksi yang sudah ada. Memang tidak ada jaminan bahwa alokasi
faktor produksi itu lebih efisien dalam keadaan tidak ada inflasi. Namun
kebanyakan ahli ekonomi berpendapat bahwa inflasi dapat mengakibatkan alokasi
faktor produksi menjadi tidak efisien.
c.
Efek terhadap output (Output Effect)
Inflasi
dapat mengakibatkan terjadinya kenaikan produksi, alasannya dalam keadaan
inflasi biasanya kenaikan harga barang mendahului kenaikan upah sehingga
keuntungan pengusaha naik. Kenaikan keuntungan ini akan mendorong kenaikan
produksi. Namun apabila laju inflasi cukup tinggi (hyper inflation) dapat
mengakibatkan sebaliknya, yakni penurunan output. Dalam keadaan inflasi yang
tinggi, nilai uang riil turun secara drastis, masyarakat cenderung tidak
menyukai uang kas, yang biasanya diikuti dengan turunya produksi barang. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan langsung antara inflasi
dengan output. Inflasi bisa dibarengi dengan kenaikan output, tetapi bisa juga
dibarengi dengan penurunan output.
Ada
dua dampak inflasi terhadap hasil produksi (output), yaitu:
·
Hasil produksi meningkat. Terjadi jika kenaikan harga barang-barang
lebih cepat daripada kenaikan gaji atau upah sehingga keuntungan pengusaha
lebih meningkat. Peningkatan keuntungan, mendorong pengusaha memproduksi lebih
banyak sehingga hasil produksi pun meningkat.
·
Hasil produksi menurun. Terjadi jika inflasi sudah terlalu tinggi
(hiperinflasi). Dalam hiperinflasi masyarakat tidak suka memiliki uang tunai,
karena nilai riilnya yang semakin merosot. Karena tidak memegang uang tunai, pertukaran
cenderung dilakukan dengan cara barter. Hal ini membuat produsen tidak
bersemangat memproduksi sebab hasil produksi akan kurang laku, dan akibat
selanjutnya hasil produksi pun turun.
d. Efek
inflasi terhadap perdagangan internasional
Jika
di dalam negeri terjadi inflasi, harga barang-barang produksi dalam 1negeri akan lebih mahal dibandingkan
produksi luar negeri sehingga barangbarang produksi dalam negeri kalah bersaing
dengan produksi luar negeri. Akibatnya, nilai ekspor akan lebih kecil daripada nilai
impor sehingga neraca perdagangan kita mengalami defisit, dan defisit ini bisa
menghabiskan cadangan devisa negara.
e. Efek
inflasi terhadap penghitungan harga pokok
Inflasi
bisa menyulitkan para produsen dalam menghitung harga pokok produksi. Sebab, persentase
kenaikan inflasi sering tidak teratur. Akibatnya, penghitungan harga pokok
menjadi tidak tepat (terlalu kecil atau terlalu besar). Penghitungan harga
pokok yang tidak tepat pada akhirnya menyulitkan produsen dalam menetapkan
harga jual produk.
f. Efek
inflasi terhadap pendapatan masyarakat
Bagi
masyarakat yang berpendapatan tetap, terjadinya inflasi sangat merugikan karena
pendapatan riil menurun. Sebelum inflasi, untuk membeli 40 kg beras diperlukan
uang Rp100.000,-. Setelah inflasi, beras 40 kg harus dibeli dengan uang
Rp120.000,- karena harga beras telah naik dari Rp2.500,- per kg menjadi
Rp3.000,- per kg. Hal ini jelas sangat merugikan, karena sebenarnya yang naik
bukan hanya beras, tetapi hampir semua jenis barang. Bisa dibayangkan betapa
sulitnya mereka yang berpendapatan tetap jika terjadi inflasi berkepanjangan.
Sedangkan
bagi masyarakat yang berpendapatan tidak tetap, inflasi bisa sangat merugikan
atau bisa juga tidak merugikan. Bagi masyarakat yang berpendapatan rendah dan
tidak tetap seperti tukang becak, tukang sayur, penyemir sepatu dan kuli
angkat, inflasi jelas sangat merugikan. Pendapatan yang rendah dan tidak
menentu jumlahnya tentu sangat membebani mereka dalam mengatur pendapatan
tersebut agar bisa bertahan hidup. Adapun bagi masyarakat yang berpendapatan
tinggi dan tidak tetap seperti para pedagang besar, inflasi dianggap tidak
begitu merugikan, karena dengan pendapatan yang tinggi mereka masih bisa
membeli berbagai kebutuhan hidup. Apalagi jika pendapatan mereka pada masa
inflasi mengalami kenaikan yang persentasenya lebih besar dibandingkan
persentase kenaikan inflasi.
g. Efek
inflasi terhadap minat menabung
Pada
masa inflasi, nilai riil tabungan merosot. Walaupun bank memberikan bunga,
tetapi bisa jadi persentase bunga yang diberikan hamper sama dengan persentase
inflasi. Misalnya, seseorang menabung dalam bentuk deposito dengan bunga 14%
per tahun. Jika tingkat inflasi sebesar 13% per tahun, berarti bunga deposito
yang dia peroleh hanya 1% (14% – 13%). Dengan demikian, pada masa inflasi
masyarakat tidak berminat untuk menabung.
h. Efek
Inflasi terhadap Kehidupan Politik, Berbangsa dan Bernegara
Dampak
inflasi ternyata tidak terbatas pada kehidupan perekonomian saja, tetapi juga
pada kehidupan politik, berbangsa dan bernegara. Adanya inflasi apalagi
hiperinflasi, mampu menurunkan kepercayaan masyarakat pada pemerintah sehingga
timbul berbagai demonstrasi yang menuntut turunnya pemerintah. Kita tentu masih
ingat peristiwa Tritura. Selain itu, inflasi juga telah memicu beberapa
peristiwa di Indonesia yang ditandai dengan bergantinya presiden dan
pemerintahannya yang terjadi saat Indonesia mengalami krisis moneter.
Inflasi
juga mampu memengaruhi tingkat keamanan dalam negeri. Daya beli masyarakat yang
menurun drastis, telah menambah angka kemiskinan, bertambahnya angka kemiskinan
akhirnya bisa menambah angka kejahatan seperti pencurian dan perampokan. Oleh
karena itu, untuk mengatasi akibat negatif inflasi, selain melakukan
kebijakan-kebijakan ekonomi, pemerintah juga harus melakukan kebijakan yang
mendorong kegiatan-kegiatan keagamaan di seluruh lapisan masyarakat dengan
tujuan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan, sekaligus mengurangi
terjadinya kejahatan.
Intensitas
efek inflasi ini berbeda-beda, apabila produksi barang ikut naik maka kenaikan
produksi ini sedikit banyak dapat mengerem laju inflasi. Tetapi, apabila
ekonomi mendekati kesempatan kerja penuh (full employment) intensitas efek
inflasi semakin besar. Inflasi dalam keadaan kesempatan kerja penuh ini sering
disebut dengan inflasi murni (pure inflation).
·
CARA MENGATASI INFLASI
Untuk
mengatasi inflasi, pada intinya pemerintah dapat melakukan tiga hal, yaitu
mengurangi jumlah uang yang beredar, memperbanyak jumlah barang dan jasa serta
menetapkan harga maksimum (agar harga tidak terus naik). Secara lengkap, untuk
mengatasi inflasi pemerintah dapat melakukan kebijakan-kebijakan sebagai
berikut:
a.
Kebijakan
Moneter yang Bersifat Mengurangi Jumlah Uang Beredar
Untuk
mengatasi inflasi, tentu digunakan kebijakan moneter yang bersifat mengurangi
jumlah uang beredar, yang meliputi:
1)
Kebijakan
Pasar Terbuka, yaitu kebijakan Bank Sentral untuk mengurangi jumlah uang
beredar dengan cara menjual SBI (Surat Bank Indonesia). Dengan menjual SBI,
Bank Sentral akan menerima uang dari masyarakat. Dengan demikian, jumlah uang
yang beredar dapat dikurangi.
2)
Kebijakan
Diskonto, yaitu kebijakan Bank Sentral untuk mengurangi jumlah uang yang
beredar dengan cara menaikkan suku bunga. Dengan menaikkan suku bunga,
diharapkan masyarakat akan menabung di bank lebih banyak. Dengan demikian,
jumlah uang yang beredar dapat dikurangi.
3)
Kebijakan
Cadangan Kas, yaitu kebijakan Bank Sentral untuk mengurangi jumlah uang beredar
dengan cara menaikkan cadangan kas minimum. Sehingga, bank umum harus menahan
uang lebih banyak di bank sebagai cadangan. Dengan demikian, jumlah uang yang
beredar dapat dikurangi.
4)
Kebijakan
Kredit Selektif, yaitu kebijakan Bank Sentral untuk mengurangi jumlah uang
beredar dengan cara memperketat syarat-syarat pemberian kredit. Syarat
pemberian yang ketat akan mengurangi jumlah pengusaha yang bisa memperoleh
kredit. Dengan demikian, jumlah uang yang beredar dapat dikurangi.
5)
Sanering,
yaitu kebijakan Bank Sentral memotong nilai mata uang dalam negeri jika negara
sudah mengalami hiperinflasi (inflasi di atas 100%). Dengan memotong nilai mata
uang maka nilai uang yang beredar dapat dikurangi.
6)
Menarik
atau memusnahkan uang lama, yaitu kebijakan Bank Sentral mengurangi jumlah uang
yang beredar dengan cara menarik atau memusnahkan uang lama seperti uang logam
Rp5,00; Rp10,00 dan Rp25,00 serta uang kertas Rp100,00.
7)
Membatasi
pencetakan uang baru. Untuk mengatasi inflasi pemerintah harus membatasi
pencetakan uang baru, agar jumlah uang yang beredar tidak semakin bertambah.
b.
Kebijakan
Fiskal (Kebijakan Anggaran)
Kebijakan fiskal atau kebijakan anggaran adalah kebijakan
yang dilakukan pemerintah dengan cara mengubah penerimaan dan pengeluaran
negara. Untuk mengatasi inflasi, pemerintah dapat melakukan kebijakan fiskal
sebagai berikut:
1)
Mengurangi
pengeluaran pemerintah. Untuk mengatasi inflasi, pemerintah dapat mengurangi
pengeluaran sehingga permintaan terhadap barang dan jasa berkurang, yang pada
akhirnya dapat menurunkan harga-harga.
2)
Menaikkan
tarif pajak.Untuk mengatasi inflasi, pemerintah dapat menaikkan tarif pajak.
Kenaikan tarif pajak akan mengurangi tingkat konsumsi masyarakat. Berkurangnya
tingkat konsumsi akan mengurangi permintaan terhadap barang dan jasa yang
akhirnya dapat menurunkan harga-harga.
c.
Kebijakan
Bukan Moneter dan Bukan Fiskal
Selain dengan kebijakan moneter dan fiskal, untuk
mengatasi inflasi pemerintah dapat menjalankan kebijakan berikut:
1)
Menambah
hasil produksi. Untuk menambah hasil produksi, pemerintah dapat memberikan
subsidi dan premi atau membuat peraturan yang mendorong pengusahapengusaha
menjadi lebih produktif sehingga mampu menambah hasil produksi. Bertambahnya
hasil produksi berupa barang dan jasa, diharapkan mampu mengimbangi jumlah uang
yang beredar.
2)
Mempermudah
masuknya barang impor. Dengan masuknya barang impor, jumlah barang yang masuk
ke dalam negeri menjadi lebih banyak dan diharapkan mampu mengimbangi jumlah
uang yang beredar. Untuk mempermudah masuknya barang impor dapat melalui
penurunan bea masuk impor dan mempermudah aturan impor.
3)
Tidak
mengimpor barang-barang dari negara yang sedang mengalami inflasi. Untuk
mencegah menularnya imported inflation (inflasi dari luar negeri), sebaiknya
pemerintah tidak mengimpor barang-barang dari negara yang sedang mengalami
inflasi yang umumnya menjual barang dengan harga lebih mahal.
4)
Menetapkan
harga maksimum. Agar harga tidak terus-menerus naik, pemerintah dapat
menerapkan harga maksimum sehingga produsen (penjual) tidak bisa menjual
melebihi harga maksimum.
5)
Melarang
penimbunan barang yang biasa dilakukan pedagang. Penimbunan barang bisa
menyebabkan langkanya barang di pasaran sehingga memicu kenaikan harga-harga.
Dengan melarang penimbunan, berarti mencegah kenaikan harga-harga.
6)
Menjaga
kestabilan tingkat upah. Dengan menjaga kestabilan tingkat upah (tidak
membiarkan upah naik terus-menerus) maka kenaikan biaya produksi bisa ditekan.
Dengan demikian, pemerintah bisa mencegah naiknya harga jual barang-barang.