Kamis, 17 Maret 2016

TUGAS_2SS_PEREKONOMIAN INDONESIA


SIAPKAH PEREKONOMIAN INDONESIA MENGHADAPI MEA



Negara-negara di ASEAN sudah memulai babak baru dengan di terapkannya ASEAN Economic Community atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tanggal 31 Desember 2015 kemarin. Apakah Indonesia sudah siap? MEA sendiri merupakan kesepakatan yang di bangun dari 10 negara anggota ASEAN. Tujuan MEA tersebut untuk meningkatkan perekonomian kawasan dengan meningkatkan daya saing di kancah internasional agar ekonomi tumbuh dengan merata dan juga meningkatkan taraf hidup masyarakat dan yang terpenting untuk mengurangi kemiskinan yang kebanyakan di alami oleh Negara-negara berkembang seperti di negera ASEAN ini.

MEA adalah visi ASEAN 2020, untuk melakukan integrasi terhadap Negara-negara ASEAN dengan pasar tunggal atau produksi bersama. Ada beberapa konsep MEA, yaitu:

1.      ASEAN Economic Community

2.      ASEAN Political Security Community

3.      ASEAN Social-culture Community

Ke 3 hal tersebut akan di realisasikan secara bertahap. Untuk langkah pertama yang akan di realisasikan adalah MEA pada 2015 ada 5 hal, yaitu arus bebas barang, arus bebas jasa, arus bebas investasi, arus bebas modal, dan arus bebas tenaga kerja terampil. Dalam pelaksanaannya, ngera-negara ASEAN harus memegan teguh prinsip-prinsip pasar terbuka dan ekonomi yang di gerakan oleh pasar. Konsekuensi di adakannya MEA adalah liberalisasi perdagangan barang, jasa, dan tenaga kerja tanpa hambatan tarif dan non-tarif.

Kesiapan Indonesia dalam menghadapi AEC 2015 ada diantara PELUANG (opportunities) dan ANCAMAN (threat). Siap tidak siap tidak perlu diperdebatkan lagi karena AEC sudah jadi keputusan & ketetapan politik yang harus dihadapi negara-negara ASEAN. Dilihat dari beberapa data tentang kondisi Indonesia dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, Indonesia kalah dalam banyak hal. Indonesia kalah oleh Thailand dan Philipina, apalagi Brunei, Malaysia, dan Singapura. Masih tertinggal jauh. Indonesia hanya menang pada luas negara yang begitu besar, jumlah penduduk yang banyak, dan sumberdaya yang melimpah.   

Begitu AEC berlaku akhir 2015 Indonesia akan diserbu barang, jasa, investasi, modal dan tenaga kerja terampil negara ASEAN lainnya. Serbuan barang, jasa, investasi, modal dan tenaga kerja terampil negara ASEAN lainnya akan menjadi ancaman serius bagi Indonesia. Atau sebaliknya Indonesia yang menyerbu negara ASEAN lainnya dengan barang, jasa, investasi & tenaga kerja terampil? Tentunya semua kembali kepada kemauan kita. Seharusnya semua elemen bangsa mulai berbenah untuk berperang pada AEC 2015.   

Pemerintah, swasta, rakyat harus bahu membahu mewujudkan Indonesia yang mandiri bebas dari segala bentuk penjajahan di bidang apapun. Indonesia yang mandiri dan bebas dari segala bentuk penjajahan dalam bidang apapun terutama untuk saat ini di bidang ekonomi. Kita harus mengubah mindset konsumtif menjadi produktif sehingga kita bisa mengurangi pengeluaran dan memperbesar pemasukan negara. Kita harus meningkatkan Competitive Advantage yang menarik konsumen akan produk kita karena kualitas terjamin & harga yang terjangkau.   

Diversifikasi peningkatan nilai tambah dari bahan baku sumber daya alam yang melimpah menjadi produk jadi yang berorientasi ekspor. Kita harus tingkatkan daya saing SDM karena kunci kemajuan bangsa bukan dari kekayaan alamnya melainkan SDM yang ada di dalamnya. Mempersiapkan lulusan perguruan tinggi kita agar mampu berkompetisi dengan SDM lulusan universitas negara ASEAN.

Pada era semua profesi harus memiliki sertifikasi tingkat ASEAN dan tiap tenaga profesional harus punya semangat bersaing yang tinggi. Mengubah mindset pegawai jadi entrepreneur sehingga diharapkan akan muncul pengusaha-pengusaha baru yang dapat menciptakan lapangan kerja. Pengusaha-pengusaha baru yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat indonesia secara mandiri sehingga tidak bergantung produk negara lain. Kemajuan sebuah bangsa tidak hanya tanggungjawab pemerintah semata akan tetapi merupakan tanggungjawab seluruh elemen bangsa. Sudah saatnya semua bersatu saling bahu membahu berjuang memajukan bangsa sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing.   

Persoalan mendasar Indonesia menghadapi MEA adalah:

1.      Tingginya jumlah pengangguran terselubung

2.      Rendahnya wirausahawan baru untuk memperluas kesempatan kerja

3.      Pekerja Indonesia didominasi oleh pekerja yang tidak terdidik menyebabkan produktivitas mereka rendah

4.      Meningkatnya pengangguran tenaga kerja terdidik, akibat banyaknya lulusan perguruan tinggi yang tidak sesuai dengan kebutuhan pasar.

5.      Timpangnya produktivitas tenaga kerja antar sector ekonomi

6.      Sector informal mendominasi lapangan pekerjaan, dimana sector ini belum mendapat perhatian yang optimal dari pemerintah

7.      Tuntutan akan upah minimum, tenaga kontrak, jaminan sosial ketenagakerjaan.

8.      Masalah TKI yang tersebar di luar negeri

9.      Ada 40juta pengangguran di Indonesia, terjadi karena lulusan yang tidak bersaing di dunia kerja.

Jika Indonesia mampu mengantisipasi, pengaruh liberalisasi akan mengarah pada efisiensi pasar jasa. Dampaknya adalah pilihan bagi konsumen meningkat, produktivitas meningkat, serta persaingan yang lebih sehat di dorong. Pencapaian MEA dilakukan melalui empat tahapan strategis, meliputi : pencapaian pasar tunggal dan kesatuan basis produksi, kawasan ekonomi yang berdaya saing, pertumbuhan ekonomi yang merata dan terintegrasi dengan perekonomian global. Menghadapi tantangan itu HIPMI mulai menyiapkan sejumlah langkah menghadapi persaingan ekonomi pada 2020. “Indonesia harus menjadi pemain dalam komunitas ekonomi ASEAN,” kata Oktohari. Untuk menghadapi itu semua, paparnya, mulai saat ini HIPMI telah mengambil sejumlah langkah antara lain menyiapkan dan memberikan mentoring pada pengusaha pemula agar mampu menghadapi persaingan baik di dalam negeri, kawasan dan global. Selain itu, katanya, HIPMI juga memberikan perhatian pada pengusaha-pengusaha lokal atau di daerah agar dapat mengembangkan usahanya sekaligus memperluas pasar produksi barang-barang mereka. Program kebijakan penguatan daya saing telah mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah, antara lain penguatan UKM nasional. Hal tersebut penting untuk memfasilitasi UKM nasional yang berdaya saing tinggi, inovatif, dan kreatif, serta mampu melakukan perluasan pasar dari MEA.

Jadi siapkah perekonomian Indonesia menghadapi MEA?

Menurut saya, siap tidak siap Indonesia harus menghadapi MEA. Indonesia masih kalah dengan Negara-negara ASEAN lainnya dalam banyak hal. Walaupun negara Indonesia adalah negara yg sangat luas dan mempunyai beragam Sumber Daya Alam, tetapi masih kurang dalam Sumber Daya Manusia nya. Itu yg merupakan ancaman serius bagi bangsa Indonesia.

Seharusnya bangsa Indonesia baik pemerintah, swasta, maupun rakyat harus berjuang mewujudkan Indonesia yang mandiri bebas dari penjajah yg saat ini menjajah dalam bidang ekonomi di Indonesia. Bangsa Indonesia harusnya mengubah mindset yang konsumtif menjadi produktif sehingga bisa mengurangi pengeluaran dan meningkatkan pemasukan Negara sehigga Indonesia bisa mendobrak pasar persaingan MEA ke Negara ASEAN lainnya dengan barang, jasa, investasi, dan tenaga kerja terampil

Dengan SDA kita yang melimpah, bangsa Indonesia harus tingkatkan daya saing SDM agar kita bisa memanfaatkan SDA yang ada di Indonesia bisa megelola produk jadi dan berorientasi ekspor

Dan dengan adanya organisasi HIPMI,  para pengusaha pemula dan pengusaha local mampu menghadapi persaingan pasar di dalam negeri, kawasan, maupun global. Untuk para pengusaha local HIPMI memberikan  solusi agar dapat mengembangkan usaha-usaha nya dan memperluas pasar produksi mereka

Dengan demikian Indonesia pasti siap menghadapi pasar persaingan bebas ASEAN atau MEA.


https://www.selasar.com/ekonomi/sudah-siapkah-kita-menyongsong-mea-2015
https://yerikanovamardiana.wordpress.com/2015/01/23/8-solusi-dalam-menghadapi-mea/








Tidak ada komentar:

Posting Komentar