Kamis, 17 Maret 2016

TUGAS_1SS_PEREKONOMIAN INDONESIA


MASIH RELEVAN KAH SISTEM PEREKONOMIAN PANCASILA DI INDONESIA?



PENGERTIAN EKONOMI PANCASILA

Apa itu Ekonomi Pancasila? Pasti semua tau arti dari pancasila tersebut. Ekonomi Pancasila adalah system ekonomi yang berpedoman pada ideologi nasional untuk dijadikan dasar atau pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Secara normatif landasan idiil system ekonomi Indonesia adalah pancasila dan UUD 1945.

 Maka sebab itu Ekonomi Indonesia tersebut berpegang teguh kepada:

1.      Ketuhanan YME, yaitu berlakunya etika moral dan agama bukan materialisme

2.      Kemanusiaan yang adil dan beradab, yaitu tidak mengenal pemerasan atau eksploitasi dalam pembangunan ekonomi

3.      Persatuan Indonesia, yaitu adanya kebersamaan, mengenal asas kekeluargaan, demokrasi dalam ekonomi

4.      Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah dalam kemusyawaratkan keadilan, yaitu mengutamakan ekonomi rakyat

5.      Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, yaitu harus adanya keadilan untuk masyarakat di dalam ekonomi, dan adanya asas persamaan dan emansipasi



CIRI-CIRI EKONOMI PANCASILA

1.      Yang menguasai hajad orang banyak adalah Negara / pemerintah,

2.      Peran Negara adalah penting tapi tidak dominan. Demikian juga peranan pihak swasta yang posisinya penting tetapi tidak mendominasi.. sehingga tidak memungkinkan di kondisi  sisterm ekonomi liberal maupun komando.

3.      Masyarakat adalah bagian yang penting dalam kegiatan ekonomi, dimana kegiatan produksi di lakukan oleh semua untuk semua dan juga di awasi atau di pimpin oleh masyarakat itu sendiri.

4.      Modal atau buruh tidak mendominasi di karenakan didasari asas kekeluargaan antar sesama manusia.



Dalam sistem ekonomi yang menganut SEP (Sistem Ekonomi Pancasi) ada beberapa hal yang harus dihindari, yaitu:

1.      Sistem free fight liberalsm yang menumbuhkan eksploitasi terhadap manusia dan bangsa lain yang menimbulkan dan mempertahankan kelemahan structural ekonomi nasional dan posisis\ Indonesia dalam perekonomian dunia.

2.      Sistem etatisme dalam arti bahwa Negara beserta aparatus ekonomi Negara bersifat dominan, mendesak dan mematikan potensi serta daya kreasi unit-unit ekonomi di luar Negara.

3.      Persaingan tidak sehat serta pemusatan kekuatan ekonomipada satu kelompok dalam berbagaibentuk monopoli dan monopsoni yang merugikan masyarakat dan cita-cita keadilan sosial. (GBHN 1993)





Dari semua yang saya tulis di atas, saya akan mencoba menjawab pertanyaan dari judul di atas, Masih relevan Sistem Ekonomi Pancasila? untuk menjawabnya saya membutuh kan 3 indikator yaitu :

Ø  Cita-cita ideal pendiri bangsa

Dalam alinea ke-2 Pembukaan Undang-Undang Dasar tahun 1945. ” Dan perjuangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan Rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur “.

Selain itu, Tujuan Nasional Bangsa Indonesia Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 :

1.      Membentuk suatu pemerintahan Negara Republik Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.

2.      Memajukan kesejahteraan umum / bersama

3.      Mencerdaskan kehidupan bangsa

4.      Ikut berperan aktif dan ikut serta dalam melaksanakan ketertiban dunia yang berlandaskan kemerdekaan, perdamaian abadi dan kedilan sosial.

Itulah yang di harapkan oleh para pendiri bangsa kita, namun sungguh amat di sayangkan ketika kita lanjut ke indikator berikutnya.



Ø  Praktek ekonomi rakyat

Globalisme sangat tidak bisa di hindari, semua negara di semua regional terkena dampak dari globalisme ini. Indonesia juga tidak bisa di pungkiri juga terkena dari dampak globalisme ini. Bayangkan ada berapa perusahaan asing di negara kita ini? salah satu contoh yang paling miris adalah, mari kita scroll ke atas sedikit, kita lihat ciri – ciri SEP yaitu “Negara menguasai bumi, air, dan kekayaan alam yang lainnya.” Mari kita ke Jakarta bagi orang Jakarta pasti tau, harga air di sana pasti mahal, kenapa???? hampir 100% atau mungkin sudah 100% memang perusahaan pengolah air itu bukan lagi milik Indonesia, seingat saya, dosen saya pernah cerita, bahkan air di Jakarta itu di kuasai asing 50% Perancis dan 50% Inggris. Menyedihkan bukan?

Ø  Praktek Ekonomi Aktual

Lalu, setelah kita membaca ke mirisan pada indikator ke 2, apa dong kemirisan pada indikator ini? sangat sedih ketika cita – cita ideal pendiri bangsa, ciri – ciri SEP, dan pengertian SEP hanya menjadi sebuah kumpulan kata – kata yang sangat manis di mata, tapi pahit di lidah. Karena apa? karena pada faktanya Sistem ekonomi Indonesia itu sekarang lebih cenderung kepada liberalisme atau kapitalisme. Miris satu, ketika semua orang menolak dan merasa jijik mendengar kata – kata itu, kita itu tetap menggunakan sistem itu. Miris dua, kita tetap tidak mau mengatakan sistem ekonomi kita ini liberalisme. Contoh dari liberalisme itu sekarang ada di sekitar kita, dan kita masih aja ngomong kalo kita menggunakan SEP? HAHA. Dampak dari sistem ini juga udah sangat terasa, individualistik sangat merajalela sekarang, si kaya semakin kaya si miskin semakin miskin. Contohnya bagi yang ngerasa tinggal di kompleks kompleks elit juga bakal sadar kok. Bahkan ada cerita lucu, seorang sebut saja A tinggal di sebelah B, suatu hari si A melihat rumah B lagi ada beberapa orang yang mengangkut barang ke sebuah mini truck, si A hanya berpendapat kalau B mau pindahan, padahal Faktanya si B kerampokan. Apa masih bisa negara kita di sebut berbasis Pancasila? Pikirkan kembali matang-matang!!



Jadi menurut saya walaupun sudah ada program untuk pembangunan ekonomi di indonesia, tetapi masih kurang relevan karna ya tadi, Cuma hanya menjadi sebuah kumpulan kata-kata yang ada di mulut doang. Pada faktanya sistem ekonomi indonesia sekarang lebih cenderung kepada liberlisme atau kapitalisme.

Tetapi semoga masyarakat dan pemerintahan indonesia ke depannya mengerti dan menggunakan paham Sisetem Ekonomi Pancasila dengan baik dan benar.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar