KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas
limpahan rahmat dan hidayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam
bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat
dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca
dalam administrasi pendidikan dalam profesi keguruan.
Harapan
saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para
pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga
kedepannya dapat lebih baik.
Makalah
ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat
kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan
masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
Tangerang,
November 2015
Penyusun
SUKU AMBON
Bahasa Suku Ambon
Bahasa Ambon
sendiri merupakan perkembangan dari bahasa asli yang dipengaruhi oleh bahasa
Melayu. Ada juga yang menyebut bahasa Ambon sebagai bahasa Melayu Ambon atau
Nusalaut. Pemakai bahasa ini sekarang berjumlah sekitar 100.000 jiwa, belum
termasuk yang berada di Negeri Belanda. Melihat daerah pemakaiannya bahasa
Ambon dibagi ke dalam dialek-dialek : Nusalaut, Saparua, Haruku, Hila, Asilulu,
Hatu, Wakasihu, dan lain-lain. Sekarang bahasa Ambon menjadi bahasa pengantar bagi
masyarakat yang berbeda-beda suku bangsa di daerah Provinsi Maluku.
Mata Pencaharian Utama Suku Ambon
Pada dasarnya mata
pencaharian utama orang Ambon adalah bercocok tanam di ladang dengan tanaman
pokok padi, jagung, ubi jalar, ubi kayu, sayur-sayuran, kacang-kacangan,
kelapa, kopi, cengkeh, tembakau dan buah-buahan. Sementara itu sagu masih
dianggap sebagai makanan pokok. Bahan makanan itu dulu mudah didapat di
hutan-hutan, karena tumbuh secara liar. Sekarang tanaman sagu sudah
dibudidayakan dengan jalan menanamnya secara teratur seperti menanam pohon
kelapa. Selain bertani masyarakat ini suka pula menangkap ikan di perairan
sekitar pulau-pulau mereka yang memang kaya dengan hasil laut. Dalam hal
pendidikan formal orang Ambon sudah sejak zaman Belanda banyak bersekolah dan
memilih pekerjaan sebagai pegawai negeri dan tentara.
Kekerabatan Dan Kekeluargaan Dalam Suku Ambon
Orang Ambon
menghitung hubungan kekerabatan melalui garis keturunan pihak ayah
(patrilineal), dan pola menetap setelah kawin adalah di lingkungan pihak ayah
(patrilokal). Kesatuan kekerabatan yang terpenting adalah matarumah (keluarga
batih) yaitu sebuah kesatuan keluarga yang terdiri dari satu keluarga
inti senior dan keluarga-keluarga inti junior dari garis keturunan laki-laki.
Pada tingkat yang lebih luas lagi mereka mengenal bentuk kesatuan kekerabatan berupa keluarga luas terbatas yang disebut soa. Pada masa sekarang istilah soa ini sering mereka kacaukan dengan istilah fam (family, dari bahasa Belanda). Masyarakat Ambon menyebut desa-desa mereka negeri. Kesatuan hidup setempat ini dipimpin oleh seorang kepala Negeri yang lebih sering digelari bapa raja, kebetulan kedudukan ini memang dimiliki secara turun-temurun oleh matarumah dari soa yang paling senior dalam desa tersebut.
Dalam kedudukannya seorang Bapa Raja dibantu oleh suatu lembaga adat yang disebut saniri negeri. Lembaga ini ada beberapa macam. Pertama Saniri raja putih yang terdiri atas raja dan para kepala soa saja. Kedua, saniri negeri lengkap yang terdiri atas raja dan para kepala soa dan para kepala adat. Ketiga, saniri negeri besar yang terdiri atas raja, para kepala soa, kepala adat dan kepala matarumah atau warga masyrakat yang sudah dewasa. Bapa Raja mempunyai tangan kanan yang disebut marinyo (pesuruh). Pada zaman dulu antara satu negeri dengan negeri lain ada yang tergabung ke dalam ikatan adat yang disebut pela, dimana mereka tidak boleh saling menyerang, malahan harus membantu jika salah satu diserang musuh. Masa sekarang ikatan adat pela ini diwujudkan dalam bentuk kerja sama sosial antar desa.
Pada tingkat yang lebih luas lagi mereka mengenal bentuk kesatuan kekerabatan berupa keluarga luas terbatas yang disebut soa. Pada masa sekarang istilah soa ini sering mereka kacaukan dengan istilah fam (family, dari bahasa Belanda). Masyarakat Ambon menyebut desa-desa mereka negeri. Kesatuan hidup setempat ini dipimpin oleh seorang kepala Negeri yang lebih sering digelari bapa raja, kebetulan kedudukan ini memang dimiliki secara turun-temurun oleh matarumah dari soa yang paling senior dalam desa tersebut.
Dalam kedudukannya seorang Bapa Raja dibantu oleh suatu lembaga adat yang disebut saniri negeri. Lembaga ini ada beberapa macam. Pertama Saniri raja putih yang terdiri atas raja dan para kepala soa saja. Kedua, saniri negeri lengkap yang terdiri atas raja dan para kepala soa dan para kepala adat. Ketiga, saniri negeri besar yang terdiri atas raja, para kepala soa, kepala adat dan kepala matarumah atau warga masyrakat yang sudah dewasa. Bapa Raja mempunyai tangan kanan yang disebut marinyo (pesuruh). Pada zaman dulu antara satu negeri dengan negeri lain ada yang tergabung ke dalam ikatan adat yang disebut pela, dimana mereka tidak boleh saling menyerang, malahan harus membantu jika salah satu diserang musuh. Masa sekarang ikatan adat pela ini diwujudkan dalam bentuk kerja sama sosial antar desa.
DAFTAR PUSTAKA
Anggio
Putra. Sejarah suku Ambon di Maluku. http://suku-dunia.blogspot.co.id/2014/08/sejarah-suku-ambon-di-maluku.html